Saturday, December 6, 2008

KISAH PENDIRI MADZHAB HANAFI= ABU HANIFAH AN NU’MAN

ABU HANIFAH AN NU’MAN

Beliau hidup pada masa sesaat sebelum berakhirnya khilafah Bani Umayah dan awal Bani Abasiyah. Imam Malik menggambarkan Abu Hanifah memiliki kekuatan dalam berhujjah, cepat daya tangkapnya, cerdas dan tajam wawasannya. Buku sejarah banyak menggambarkan kekuatan argumentasi beliau dalam menghadapi para penentang akidah. Diantara kisah Abu Hanifah adalah beradu argumentasi dengan seorang atheis yang mengingkari eksistensi Al-Khaliq Beliau bercerita:

“Bagaimana pendapat kalian, jika ada sebuah kapal diberi muatan barang-barang, penuh dengan barang-barang dan beban. Kapal ter­se­but mengarungi samudera. Gelombangnya kecil, anginnya tenang. Akan tetapi setelah kapal sampai di tengah tiba-tiba terjadi badai besar. Anehnya kapal terus berlayar dengan tenang sehingga tiba di tujuan sesuai rencana tanpa goncangan dan berbelok arah, padahal tak ada nah­koda yang mengemudikan dan mengendalikan jalannya kapal. Masuk akal­kah cerita ini?” Lantas apa jawab para Athies…. Temukan sendiri jawabannya dengan membaca kisah beliau. Selamat membaca… :)

ABU HANIFAH AN-NU’MAN

Wajahnya tampan dan ceria, fasih bicaranya dan santun tutur katanya. Tidak terlalu tinggi badannya, tidak juga terlalu pen­dek sehingga enak dipandang mata. Di samping itu, beliau suka berpenampilan rapi, wajahnya ceria dan gemar memakai we­wangian. Ketika muncul di tengah-tengah manusia, mereka bisa me­nebak kedatangannya dari bau wanginya sebelum melihat orangnya.

Itulah dia Nu’man bin Tsabit bin Al-Marzuban yang dikenal dengan Abu Hanifah, orang pertama yang meletakkan dasar-dasar fikih dan mengajarkan hikmah-hikmah yang baik.

Abu Hanifah masih merasakan hidup sesaat sebelum berakhirnya khilafah Bani Umayah dan awal kekuasaan Bani Abasiyah. Beliau hidup pada suatu masa di mana para khalifah dan para gubernur memanjakan pa­ra ilmuwan dan ulama hingga rejeki datang kepada mereka dari se­gala arah tanpa mereka sadari.

Meski demikian, Abu Hanifah senantiasa menjaga martabat jiwa dan ilmunya dari semua itu. Beliau berusaha konsisten untuk makan dari hasil karyanya sendiri dan menjadikan tangannya selalu di atas (untuk memberi-pent).

Pernah suatu kali Amirul Mukminin Al-Manshur mengundang beliau ke istananya. Sesampainya di istana beliau disambut dengan ramah dan penuh hormat, dipersilakan duduk disamping khalifah Al-Manshur kemudian khalifah bertanya tentang banyak persoalan yang menyangkut agama maupun dunia.

Ketika beliau bermaksud untuk pulang, Amirul Mukminin mengu­lurkan sebuah wadah yang di dalamya berisi uang tiga puluh ribu dir­ham, padahal Al-Manshur dikenal kikir dibanding yang lain. Lalu Abu Hanifah berkata: “Wahai Amirul Mukminin, saya adalah orang asing di Baghdad ini dan tidak memiliki tempat untuk menyimpannya. Maka aku titipkan di Baitul Maal, kelak jika aku memerlukannya, saya akan meminta kepada anda.” Maka Al-Manshur mengabulkan per­mo­honannya. Hanya saja, masa hidup Abu Hanifah tak begitu lama se­telah peristiwa itu. Ketika beliau wafat, ternyata didapatkan di ru­mah­nya harta titipan orang-orang yang jauh lebih besar daripada pemberian Amirul Mukminin.

Tatkala Al-Manshur mendengar berita tersebut, dia berkata, “Se­moga Allah merahmati Abu Hanifah. Dia telah mengelabuhi kita, dia tidak ingin mengambil sesuatupun dari kita, dia menolak pemberianku dengan cara yang halus.”

Ini tidaklah aneh, karena Abu Hanifah memiliki prinsip bahwa ti­dak ada yang lebih bersih dan lebih mulia daripada orang yang makan dari hasil tangannya sendiri. Oleh sebab itu, beliau menyediakan waktu khusus untuk berdagang. Beliau berdagang kain dan pakaian, kadang kadang pulang pergi antar kota-kota di Irak. Di samping itu beliau juga memiliki toko pakaian yang terkenal dan banyak dikunjungi orang. Me­reka mendapatkan kejujuran dalam bermuamalah dan amanah dalam memberi dan mengambil. Tidak diragukan lagi bahwa mereka me­rasakan kesenangan tersendiri dari cara muamalah Abu Hanifah., per­niagaan beliau maju berkat karunia Allah S.W.T hingga banyak keun­tu­ngan yang beliau dapat.

Beliau mendapatkan harta dengan cara yang halal lalu membelan­jakan di tempat yang semestinya. Telah menjadi kebiasaan beliau, setiap sampai haul (setiap tahun), beliau menghitung laba yang beliau dapat. Lalu menyisihkan sekedarnya untuk mencukupi kebutuhan pribadi, si­sanya dibelikan berbagai barang untuk diberikan kepada para peng­hafal Al-Qur’an, ahli hadits, ahli fikih dan murid-muridnya baik berupa makanan maupun pakaian. Beliau memberikan hal itu sembari berkata: “Ini adalah laba dari hasil perniagaanku dengan kalian, Allah S.W.T me­lancarkannya di tanganku. Demi Allah, aku tidak memberi kalian de­ngan hartaku sendiri, melainkan karunia Allah untuk kalian yang di­berikan-Nya melalui aku. Pada tiap-tiap rizki tidak ada suatu kekuatan dari seseorang kecuali dari Allah.”

Berita tentang kedermawanan dan kebijaksanaan Abu Hanifah masy­­hur di belahan negeri timur maupun barat. Terutama di kalangan para sahabat dan orang-orang yang biasa bertemu beliau.

Sebagai contohnya, pernah seorang pelanggannya datang ke toko be­liau seraya berkata: “Saya membutuhkan baju “khaz”, wahai Abu Hanifah.” Beliau menjawab: “Apa warna yang Anda kehendaki?” Dia men­jawab: “Yang berwarna ini dan ini.” Beliau berkata: “Bersabarlah sam­­pai saya menemukannya dan akan aku berikan kepada Anda.”

Sepekan setelahnya beliau berhasil mendapatkan kain sesuai pe­sanan. Ketika pemesan tersebut lewat, Abu Hanifah berkata: “Saya su­dah mendapatkan pesanan Anda.” Kemudian beliau menyodorkan pakaian tersebut kepada pemesan dan takjublah pemesan akan keba­gu­sannya lalu bertanya: “Berapa harganya?” Beliau menjawab: “Satu dirham saja.” Pemesan itu dengan keheranan bertanya: “Satu dirham?!” Abu Hanifah menjawab: “Benar.” Orang itu berkata penasaran: “Saya rasa Anda mengolok-olok saya wahai Abu Hanifah.” Beliau berkata: “Saya tidak mengolok-olok anda. Saya membeli baju ini bersamaan dengan baju lain seharga duapuluh dinar lebih satu dirham. Satu baju sudah saya jual seharga duapuluh dinar, jadi kurangnya hanya satu dirham. Saya tak mau mengambil laba dari Anda.”

Pada kasus yang lain, ada seorang wanita tua yang mencari baju “khaz”, kemudian beliau menunjukkan barang yang dimaksud. Lalu wanita itu berkata: “Saya adalah seorang wanita tua yang lemah, tidak pula tahu menahu soal harga, sedangkan ini hanyalah titipan. Maka jual­lah baju itu kepada saya dengan harga yang sama ketika Anda mem­belinya, lalu ambillah sedikit untung darinya, karena saya adalah wanita lemah.”

Abu Hanifah berkata: “Saya membeli baju ini dua potong dalam sa­tu harga. Saya sudah menjual yang sepotong hingga kurang empat dirham saja dari modal saya. Belilah baju ini sehargaempat dirham karena saya tak ingin mendapatkan laba dari Anda.”

Suatu hari beliau melihat pakaian usang dan lusuh yang dikenakan seorang yang menghadiri majlisnya. temannya. Ketika orang-orang telah bubar dan tak ada seorangpun selain beliau dan laki-laki itu, beliau berkata: “Angkatlah alas shalat itu lalu ambillah sesuatu dibawahnya.” Orang itu mengangkat alas yang dimaksud, ternyata ada uang seribu dirham. Abu Hanifah berkata: “Ambillah dan perbaiki penampilan anda.” Orang itu menjawab: “Saya adalah orang yang mampu. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melimpahkan nikmat-Nya untuk saya. Saya tidak membutuhkannya.” Abu Hanifah berkata: “Jika Allah telah mem­berikan nikmat-Nya atas Anda, lantas manakah bekas nikmat yang An­da tampakkan? Belum sampaikah kepada anda sabda Rasulullah: “Allah suka melihat bekas-bekas nikmat-Nya atas para hamba-Nya,” sudah sepantasnya Anda memperbagus penampilan Anda agar tidak menyusahkan teman Anda.”

Kedermawanan Abu Hanifah dan perlakuan baiknya kepada orang lain mencapai klimaksnya, hingga setiap kali beliau memberikan belanja kepada keluarganya, beliau juga menginfakkan jumlah yang sama kepada orang-orang yang membutuhkan. Setiap kali beliau memakai baju baru, beliau juga membelikan pakaian untuk orang-orang miskin sebesar harga bajunya. Jika diletakkan makanan di hadapannya, beliau sisihkan separuhnya untuk diberikan kepada orang-orang fakir.

Diriwayatkan pula bahwa beliau telah bertekad setiap kali ber­sum­pah kepada Allah di tengah pembicaraannya, beliau akan bersedekah dengan satu dirham perak. Berikutnya ditingkatkan lagi, beliau berjanji untuk bersedekah satu dinar emas setiap kali bersumpah di tengah pem­bicaraannya. Namun jika sumpahnya menjadi kenyataan, dia se­dekah lagi sebanyak satu dinar.

Salah satu rekan bisnis Abu Hanifah adalah Hafsh bin Abdurrahman. Abu Hanifah biasa menitipkan kain-kain kepadanya untuk dijual ke se­ba­gian kota-kota di Irak. Suatu kali Abu Hanifah memberikan daga­ngan yang banyak kepada Hafsh sambil memberitahukan bahwa pada barang ini dan itu ada cacatnya. Beliau berkata: “Jika Anda bermaksud untuk menjualnya, maka beritahukanlah cacat barang kepada orang yang hendak membelinya.”

Akhirnya Hafsh berhasil menjual seluruh barang, namun dia lupa memberitahukan cacat barang-barang tertentu tersebut. Dia telah ber­usaha mengingat-ingat orang yang telah membeli barang yang ada ca­catnya tersebut, namun hasilnya nihil. Tatkala Abu Hanifah mengetahui duduk perkaranya, juga tidak memungkinkan diketahui siapa yang telah membeli barang yang ada cacatnya tersebut, beliau merasa tidak tenang hingga akhirnya beliau sedekahkan seluruh hasil penjualan barang yang dibawa Hafsh.

Di samping itu, Abu Hanifah juga pandai bergaul. Majelisnya dipe­nuhi orang dan dia bersusah hati bila ada yang tidak hadir meski dia orang yang memusuhinya. Salah seorang sahabatnya mengisahkan: “Aku mendengar Abdullah bin Mubarak berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri: “Wahai Abu Abdillah alangkah jauhnya Abu Hanifah dari ghibah. Aku tak pernah mendengarnya menyebutkan satu keburukan pun tentang musuhnya.” Sufyan Ats-Tsauri menjawab: “Abu Hanifah cu­kup berakal untuk sehingga tidak akan membiarkan kebaikannya lenyap karena ghibahnya. “

Di antara kegemaran Abu Hanifah adalah mencukupi kebutuhan orang untuk menarik simpatinya. Sering ada orang lewat kemudian ikut duduk di majelisnya tanpa sengaja. Ketika dia hendak beranjak pergi, beliau segera menghampirinya dan bertanya tentang kebu­tuhannya. Bila dia punya kebutuhan, maka Abu Hanifah akan mem­berinya, kalau sakit maka akan beliau antarkan dan jika memiliki hutang maka beliau akan membayarkan sehingga terjalinlah hubungan yang baik antara keduanya.

Dengan segala keutamaan yang di sandang oleh Abu Hanifah ter­sebut, beliau juga termasuk orang yang rajin shaum di siang hari dan shalat tahajud di malam harinya. Akrab dengan Al-Qur’an dan istighfar di waktu sahar. Ketekunannya dalam beribadah dilatarbelakangi oleh persitiwa di mana beliau mendatangi suatu kaum lalu mendengar me­reka berkomentar tentang Abu Hanifah: “Orang yang kalian lihat itu tidak pernah tidur malam.” Demi mendengar kata-kata itu, Abu Hanifah berkata: “Dugaan orang terhadap diriku ternyata berbeda dengan dengan apa yang aku kerjakan di sisi Allah. Demi Allah jangan pernah orang-orang mengatakan sesuatu yang tidak aku lakukan. Aku tak akan tidur di atas bantal sejak hari ini hingga bertemu dengan Allah.”

Mulai hari itu Abu Hanifah membiasakan seluruh malamnya untuk shalat. Setiap kali malam datang dan kegelapan menyelimuti alam, ke­tika semua lambung merebahkan diri. Beliau bangkit mengenakan pa­kaian yang indah, merapikan jenggot dan memakai wewangian. Ke­mudian berdiri di mihrabnya, mengisi malamnya untuk ketaatan ke­pa­da Allah, atau membaca beberapa juz dari Al-Qur’an, Setelah itu, mengangkat kedua tangan dengan sepenuh harap disertai kerendahan hati. Terkadang beliau mengkhatamkan Al-Qur’an penuh dalam satu rekaat, terkadang pula beliau menghabiskan shalat semalam dengan satu ayat saja.

Sebuah iriwayat menyebutkan bahwa tatkala shalat malam secara berulang-ulang Abu Hanifah membaca firman Allah:

“Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.” (QS Al-Qamar: 46)

Beliau menangis karena takut kepada Allah dengan tangisan yang menyayat hati.

Telah diketahui banyak orang bahwa selama lebih dari empat puluh tahun beliau melakukan shalat fajar dengan wudhu shalat Isya’. Hingga wafat beliau pernah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 7000 kali.

Setiap kali beliau membaca surat Al-Zalzalah, gemetar jasadnya, bergetar hatinya. Dengan memegang jenggotnya, beliau berkata: “Wahai yang membalas sebesar dzarrah kebaikan dengan kebaikan dan sebesar dzarrah keburukan dengan keburukan, selamatkanlah hamba-Mu Nu’man dari api neraka dan jauhkan ia dari apa-apa yang bisa mendekatkan dengan neraka, masukkanlah ia ke dalam luasnya rah­mat-Mu, ya Arhamarrahimin.”

Suatu ketika Abu Hanifah menjumpai Imam Malik yang tengah duduk bersama beberapa sahabatnya. Setelah Abu Hanifah keluar, Imam Malik menoleh kepada mereka dan berkata: “Tahukah kalian, siapa dia?” Mereka menjawab: “Tidak.” Beliau berkata: “Dialah Nu’mam bin Tsabit, yang seandainya berkata bahwa tiang masjid itu emas, niscaya perkataannya menjadi dipakai orang sebagai argumen.”

Tidaklah dikatakan berlebihan apa yang dikatakan Imam Malik dalam menggambarkan diri Abu Hanifah, sebab beliau memang memiliki ke­kuatan dalam berhujjah, cepat daya tangkapnya, cerdas dan tajam wa­wasannya.

Buku sejarah dan kisah sangat banyak menggambarkan kekuatan argumentasinya dalam menghadapi lawan bicaranya ketika adu argu­men, begitu pula ketikam menghadapi penentang akidah. Semuanya membuktikan kebenaran pujian Imam Malik: “Seandainya dia menga­takan bahwa tanah di tanganmu itu emas, maka engkau akan mem­be­nar­kannya karena alasannya yang tepat dan mengikuti pernyata­an­nya.” Bagaimana pula jika yang dipertahankan adalah kebenaran, dan adu argumentasi untuk membela kebenaran?”

Sebagai bukti, ada seorang laki-laki dari Kufah yang disesatkan oleh Allah S.W.T. Dia termasuk orang terpandang dan didengar omongannya. Laki-laki itu menuduh di hadapan orang-orang bahwa Utsman bin Affan asalnya adalah Yahudi, lalu menganut Yahudi lagi setelah Islam­nya.

Demi mendengar berita tersebut, Abu Hanifah bergegas menjum­painya dan berkata: “Aku datang kepadamu untuk meminang putrimu yang bernama fulanah untuk seorang sahabatku.” Dia berkata: “Selamat atas kedatangan anda. Orang seperti anda tidak layak ditolak keper­luannya wahai Abu Hanifah. Akan tetapi, siapakah peminang itu?” Be­liau menja­wab: “Seorang yang terkemuka dan terhitung kaya di te­ngah kaumnya, dermawan dan ringan tangan, hafal Kitabullah , meng­habiskan malam dengan satu rukuk dan sering menangis karena takwa dan takutnya kepada Allah S.W.T.”

Laki-laki itu berkata, “Wah..wah.., cukup wahai Abu Hanifah, seba­gian saja dari yang anda sebutkan itu sudah cukup baginya untuk me­­minang seorang puteri Amirul Mukminin.” Abu Hanifah berkata: “Ha­nya saja ada satu hal yang perlu anda pertimbangkan.” Dia ber­tanya: “Apakah itu?” Abu Hanifah berkata; “Dia seorang Yahudi.” Men­dengar hal itu, orang itu terperanjat dan bertanya-tanya: “Yahudi?! Apa­kah anda ingin saya menikahkan putri saya dengan seorang Yahudi wahai Abu Hanifah? Demi Allah aku tidak akan menikahkan putriku dengannya, walaupun dia memiliki segalanya dari yang awal sampai yang akhir.”

Lalu Abu Hanifah berkata: “Engkau menolak menikahkan puterimu dengan seorang Yahudi dan engkau mengingkarinya dengan kerasnya, tapi kau sebarkan berita kepada orang-orang bahwa Rasulullah S.A.W telah menikahkan kedua puterinya dengan Yahudi (yakni Utsman-pent)?”

Seketika orang itu gemetaran tubuhnya lalu berkata: “Astaghfirullah, Aku memohon ampun kepada Allah atas kata-kata buruk yang aku ucap­kan. Aku bertaubat dari tuduhan busuk yang saya lontarkan.”

Contoh lain, ada seorang Khawarij bernama Adh-Dhahak Asy-Syari pernah datang menemui Abu Hanifah dan berkata:

Adh-Dhahak : “Wahai Abu Hanifah, bertaubatlah Anda.”

Abu Hanifah : “Bertaubat dari apa?”

Adh-Dhahak : “Dari pendapat Anda yang membenarkan diada­kan­nya tahkim antara Ali dan Mu’awiyah.

Abu Hanifah : “Maukah anda berdiskusi dengan saya dalam persoalan ini?”

Adh-Dhahak : “Baiklah, saya bersedia.”

Abu Hanifah : “Bila kita nanti berselisih paham, siapa yang akan men­jadi hakim di antara kita?”

Adh-Dhahak : “Pilihlah sesuka anda.”

Abu Hanifah menoleh kepada seorang Khawarij lain yang menyertai orang itu lalu berkata:

Abu Hanifah : “Engkau menjadi hakim di antara kami.” (dan kepada orang pertama beliau bertanya:) “Saya rela kawanmu menjadi ha­kim, apakah engkau juga rela?”

Adh-Dhahak : “Ya saya rela.”

Abu Hanifah : “Bagaimana ini, engkau menerima tahkim atas apa yang terjadi di antara saya dan kamu, tapi menolak dua sahabat Rasulullah yang bertahkim?”

Maka Orang itu pun mati kutu dan tak sanggup berbicara sepatah katapun.

Contoh yang lain lagi, bahwa Jahm bin Sofwan, pentholan kelom­pok Jahmiyah yang sesat, penyebar bid’ah dan ajaran sesat di bumi per­nah mendatangi Abu Hanifah seraya berkata,

Jahm : “Saya datang untuk membicarakan beberapa hal yang sudah saya persiapkan.”

Abu Hanifah : “Berdialog denganmu adalah cela dan larut dengan apa yang engkau bicarakan berarti neraka yang menyala-nyala”

Jahm : “Bagaimana bisa anda memvonis saya demikian, pada­hal Anda belum pernah bertemu denganku sebelumnya dan belum mendengar pendapat-pendapat saya?”

Abu Hanifah : “Telah sampai kepada saya berita-berita tentangmu yang telah berpendapat dengan pendapat yang tidak layak keluar dari mulut ahli kiblat (muslim).

Jahm : “Anda menghakimi saya secara sepihak?”

Abu Hanifah : “Orang-orang umum dan khusus sudah mengetahui perihal Anda, sehingga boleh bagiku menghukumi dengan sesuatu yang telah mutawatir kabarnya tentang Anda.

Jahm : “Saya tidak ingin membicarakan atau menanyakan apa-apa ke­cuali tentang keimanan.”

Abu Hanifah : “Apakah hingga saat ini kamu belum tahu juga tentang masalah itu hingga perlu menanyakannya kepada saya?”

Jahm : “Saya memang sudah paham, namun saya meragukan salah satu bagiannya.”

Abu Hanifah : “Keraguan dalam keimanan adalah kufur.”

Jahm : “Anda tidak boleh menuduh saya kufur sebelum mendengar tentang apa yang menyebabkan saya kufur.”

Abu Hanifah : “Silakan bertanya!”

Jahm : “Telah sampai kepadaku tentang seseorang yang mengenal dan mengakui Allah dalam hatinya bahwa Dia tak punya sekutu, tak ada yang menyamai-Nya dan mengetahui sifat-sifat-Nya, lalu orang itu mati tanpa menyatakan dengan lisannya, orang ini dihu­kumi mukmin atau kafir?”

Abu Hanifah : “Dia mati dalam keadaan kafir dan menjadi penghuni neraka bila tidak menyatakan dengan lidahnya apa yang diketahui oleh hatinya, selagi tidak ada penghalang baginya untuk menga­takannya.”

Jahm : “Mengapa tidak dianggap sebagai mukmin padahal dia mengenal Allah dengan sebenar-benarnya?”

Abu Hanifah : “Bila anda beriman kepada Al-Qur’an dan mau men­jadikannya sebagai hujjah, maka saya akan meneruskan bicara. Ta­­pi jika engkau tidak beriman kepada Al-Qur’an dan tidak me­makai­nya sebagai hujjah, maka berarti saya sedang berbicara dengan orang yang menentang Islam.”

Jahm : “Bahkan saya mengimani Al-Qur’an dan menjadi­kannya sebagai hujjah.”

Abu Hanifah : “Sesungguhnya Allah S.W.T menjadikan iman atas dua sen­di, yaitu dengan hati dan lisan, bukan dengan salah satu saja da­ri­nya. Kitabullah dan hadits Rasulullah jelas-jelas menyatakan hal itu:

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepa­-daRasul(Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah ber-iman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad S.A.W). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?” Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).” (QS Al Maidah: 83-85)

Karena mereka mengetahui kebenaran dalam hati lalu menya­ta­kannya dengan lisan, maka Allah S.W.T memasukkannya ke dalam jan­nah yang di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir karena pernyataan keimanannya itu. Allah juga berfirman:

“Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” ( QS Al-Baqarah: 136)

Allah menyuruh mereka untuk mengucapkannya dengan lisan, ti­dak hanya cukup dengan ma’rifah dan ilmu saja. Begitupula dengan ha­dits Rasulullah S.A.W:

“Ucapkanlah, Laa ilaaha illallah, niscaya kalian akan beruntung.”

Maka belumlah dikatakan beruntung bila hanya sekedar mengenal dan tidak dikukuhkan dengan kata-kata.

Rasulullah bersabda:

“Akan dikeluarkan dari neraka barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallah..”

Dan Nabi tidak mengatakan: “Akan dikeluarkan dari api neraka barangsipa yang mengenal Allah S.W.T.”

Kalau saja pernyataan lisan tidak diperlukan dan cukup hanya de­ngan sekedar pengetahuan, niscaya iblis juga termasuk mukmin, sebab dia mengenal Rabbnya, tahu bahwa Allahlah yang menciptakan diri­nya, Dia pula yang menghidupkan dan mematikannya, juga yang akan membangkitkannya, tahu bahwa Allah yang menyesatkannya. Allah berfirman tatkala menirukan perkataannya:

“Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS Al-A’raf: 12)

Kemudian:

“Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.” (QS Al-Hijr: 36)

Juga firman Allah:

“Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,” (QS Al-A’raf: 16)

Seandainya apa yang engkau katakan itu benar, niscaya banyaklah orang-orang kafir yang dianggap beriman karena mengetahui Rabbnya walaupun mereka ingkar dengan lisannya.

Firman Allah S.W.T :

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (me-reka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya.” (QS An-Naml: 14).

Padahal mereka tidak disebut mukmin meski meyakininya, justru dianggap kafir karena kepalsuan lisan mereka.

Abu Hanifah terus menyerang Jahm bin Shafwan dengan hujjah-hujjah yang kuat, adakalanya dengan Al-Qur’an dan adakalanya de­ngan hadits-hadits. Akhirnya orang itu kewalahan dan tampaklah raut kehinaan dalam wajahnya. Dia enyah dari hadapan Abu Hanifah sambil berkata: “Anda telah mengingatkan sesuatu yang saya lupakan, saya akan kembali kepada anda.” Lalu dia pergi untuk tidak kembali.

Kasus yang lain, sewaktu Abu Hanifah berjumpa dengan orang-orang atheis yang mengingkari eksistensi Al-Khaliq . Beliau bercerita kepada mereka:

“Bagaimana pendapat kalian, jika ada sebuah kapal diberi muatan barang-barang, penuh dengan barang-barang dan beban. Kapal ter­se­but mengarungi samudera. Gelombangnya kecil, anginnya tenang. Akan tetapi setelah kapal sampai di tengah tiba-tiba terjadi badai besar. Anehnya kapal terus berlayar dengan tenang sehingga tiba di tujuan sesuai rencana tanpa goncangan dan berbelok arah, padahal tak ada nah­koda yang mengemudikan dan mengendalikan jalannya kapal. Masuk akal­kah cerita ini?”

Mereka berkata: “Tidak mungkin. Itu adalah sesuatu yang tidak bi­­­sa diterima oleh akal, bahkan oleh khayal sekalipun, wahai syeikh.” Lalu Abu Hanifah berkata: “Subhanallah, kalian mengingkari adanya kapal yang berlayar sendiri tanpa pengemudi, namun kalian mengakui bahwa alam semesta yang terdiri dari lautan yang membentang, langit yang penuh bintang dan benda-benda langit serta burung yang beter­bangan tanpa adanya Pencipta yang sempurna penciptaan-Nya dan menga­turnya dengan cermat?! Celakalah kalian, lantas apa yang mem­buat kalian ingkar kepada Allah?”

Begitulah, Abu Hanifah menghabiskan seluruh hidupnya untuk menyebarkan dienullah dengan kekuatan argumen yang dianuge­rah­kan Al-Khaliq kepadanya. Beliau menghadapi para penentang dengan argumentasi yang tepat.

Tatkala ajaln menjemputnya, ditemukan wasiat beliau yang ber­pe­san agar dikebumikan di tanah yang baik, jauh dari segala tempat yang berstatus syubhat (tidak jelas) atau hasil ghashab.

Ketika wasiat tersebut terdengar oleh Amirul Mukminin Al-Man­shur beliau berkata: “Siapa lagi orang yang lebih bersih dari Abu Hanifah dalam hidup dan matinya.”

Di samping itu, beliau juga berpesan agar jenazahnya kelak diman­dikan oleh Al-Hasan bin Amarah. Setelah melaksanakan pesan­nya, Ibnu Amarah berkata, “Semoga Allah S.W.T merahmati anda wahai Abu Hanifah, semoga Allah mengampuni dosa-dosa Anda karena jasa-jasa yang telah Anda kerjakan, sungguh Anda tidak pernah putus shaum selama tiga pu­luh tahun, tidak berbantal ketika tidur selama empat pu­luh tahun, dan kepergian anda akan membuat lesu para fuqaha se­te­lah Anda.”

Sumber: Pustaka At Tibyan, Solo, Jejak Para Tabi’in

Kisah Generasi terbaik Umat Islam

Kisah Generasi terbaik Umat Islam

Tak kenal maka tak sayang. Sebagai orang yang menisbatkan diri kepada manhaj salaf, sudah sepantasnyalah kita mengenal manusia-manusia terbaik (setelah Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam) yang kita menisbatkan diri pada mereka. Merekalah para ulama terbaik umat ini, dimulai dari generasi sahabat rodhiyallahu 'anhum ajma'in, tabi'in, tabiut-tabi'in dan generasi setelahnya dari kalangan ahlus-sunnah waljama'ah rohimahumullahu jami'an.

Generasi Sahabat

(Disarikan dari kitab Shifatu 'sh-Shofwah, karya Abul Faroj ibnul Jauzi, jilid I, Darul Ma'rifah, Beirut Libanon.)

10 Orang Sahabat yang Dijamin Masuk Jannah

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq (wafat 13 H)

2. 'Umar bin Khoththob (wafat 23 H)

3. 'Utsman bin 'Affan (wafat 34 H)

4. 'Ali bin Abi Tholib (wafat 40 H)

5. Tholhah bin 'Ubaidillah (wafat 36 H)

6. Zubair bin 'Awwam (wafat 36 H)

7. 'Abdurrohman bin 'Auf (wafat 36 H)

8. Sa'ad bin Abi Waqqosh (wafat 55 H)

9. Sa'ad bin Zaid (wafat 55/51 H)

10. Abu 'Ubaidah ibnul Jarroh (wafat 18 H)

Di antara Sahabat yang Ikut Perang Badar

1. Hamzah bin 'Abdul Muththolib (wafat 3 H saat perang Uhud)

2. Zaid bin Haritsah (wafat 6 H)

3. Salim Maula Abi Hudzaifah (wafat 106 H)

4. 'Abdulloh bin Jahsy (wafat 3 H saat perang Uhud )

5. Mush'ab bin 'Umair (wafat 3 H saat perang Uhud )

6. 'Uthbah bin Ghozwan (wafat 2 H saat perang Badar )

7. 'Abdulloh bin Mas'ud (wafat 32 H)

8. Miqdad bin 'Amr (wafat 33 H)

9. Khobab bin Arott (wafat 38 H)

10. Shuhaib bin Sinan (wafat 38 H)

11. 'Amir bin Fuhairoh (wafat 4 H saat peristiwa Bi'ru Ma'unah)

12. Bilal bin Robah (wafat 20 H)

13. Abu Salamah (wafat 3 H)

14. Al-Arqom bin Abil Arqom (wafat 13 H)

15. Amar bin Yasir (wafat 37 H saat perang Hunain)

16. Zaid bin Khotob (wafat saat perang Yamamah)

17. Amir bin Robi'ah (wafat 35 H)

18. 'Utsman bin Madh'un (wafat sekitar 3 bulan dari hijroh)

19. 'Abdulloh bin Suhail bin 'Amru (wafat saat perang Yamamah)

20. Sa'ad bin Mu'adz (wafat 5 H)

21. Ubay bin Ka'ab (32 H)

22. Abu Tholhah (wafat 34 H)

23. 'Abdulloh bin Rowahah (wafat 8 H saat peristiwa Bi'ru Ma'unah)

24. Mu'adz bin Jabbal (wafat 18 H)

25. Usaid bin Khudhoir (wafat 20 H)

26. Sa'ad bin 'Ubadah (wafat 15 H)

27. Al-Baro' bin Ma'rur (wafat sebulan sebelum Rosul datang di Madinah)

Di antara Sahabat dari Kaum Muhajirin dan Anshor

1. Al-'Abbas bin 'Abdul Muththolib (lahir 3 tahun sebelum Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam dan wafat: Jumat 14 Rojab 32 H)

2. Ja'far bin Abi Tholib (lahir 10 tahun sebelum 'Ali a& dan wafat 8 H saat perang Mu'tah)

3. Abu Sufyan bin Al-Harits (wafat 20 H)

4. Usamah bin Zaid bin Haritsah (wafatnya akhir Khilafah Mu'awiyah)

5. Salman Al-Farisi (wafat 32 H)

6. Abu Musa Al-Asy'ari (wafat 42 / 44 / 52H)

7. 'Abdulloh bin 'Umar bin Khoththob (lahir 11 tahun sebelum hijrah, wafat 74/ 73 H.)

8. Amru bin Ummi Maktum

9. Abu Dzar Jundab bin Junadah Al-Ghifari (umur 32 tahun)

10. Thufail bin 'Amru bin Thorif bin Ad-Dausi (syahid di perang Yarmuk)

11. Handholah bin Abi Amir (wafat 3 Hsaat perang Uhud)

12. Hudzaifah Ibnul Yaman (meninggal di Madain beberapa bulan setelah wafatnya 'Utsman)

13. Khubaib bin Adi bin Malik

14. Al-Baro' bin Malik (wafat 20 H saat penaklukan Tustar)

15. Tsabit bin Qois (wafat pada perang Yamamah)

16. Abu Darda' (wafat 32 H)

17. Amru bin Jamuh (wafat 3 H saat perang uhud)

18. Abu Qotadah Al-Harits (wafat 54 H)

19. Jabir bin Abdulloh (wafat 78 H)

20. Abu Dahdah Tsabit bin Dahdah (wafat 3 H saat perang uhud)

Di antara Sahabat dari Kaum Muhajirin dan Anshor yang Ikut Perang Khondaq

1. Kholid bin Walid (wafat 21 H di Khimsho)

2. Abdulloh bin Amru bin Ash (wafat 65 H atau saat umur 72 Tahun)

3. Abu Jandal bin Suhail bin Amru (wafat 18 H di Yordania)

4. lyadh bin Ghonam bin Zuhair (wafat 20 H atau saat umur 60 tahun)

5. Safinah maula Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam (wafat 70 )

6. Abdulloh bin Mughoffal (wafat 60 H)

7. 'Imron bin Hushoin bin 'Ubaid (wafat 52 H)

8. Salamah bin Akwa' (wafat 74 H)

9. Robi'ah bin Ka'ab Al-Aslami (wafat 63 H)

10. Abu Huroiroh (wafat 57 H)

11. Zaid bin Tsabit (lahir 11 tahun sebelum hijroh dan wafat 45 H)

12. Anas bin Malik (lahir 9 tahun sebelum hijroh dan wafat 92 H atau saat umur 99 tahun di Bashroh)

13. Abu Sa'id Al-Khudri (wafat 74 H)

14. Qois bin Sa'ad bin 'Ubadah (wafat pada akhir kekhilafahan Mu'awiyah)

15. Abdulloh bin Salam (wafat 43 H)

Di antara Sahabat yang Masuk Islam Ketika Fathu Makkah

1. Hakim bin Hizam bin Khuwailid (lahir di Ka'bah dan wafat 54 H saat umur 120th)

2. Syaibah bin 'Utsman bin Abi Tholhah (wafat pada masa kekhilafahan Yazid bin Mu'awiyah)

3. 'Ikrimah bin Abi Jahl atau Amru bin Hisyam (wafat saat perang Yarmuk)

4. Suhail bin Amru bin Abdusy Syams (wafat 18 H dalam Ribath di Syam)

5. Abu Umamah Al-Bahili

6. Lubaid bin Robi'ah bin Malik Asy-Syair (pada malam perdamaian antara Mu'awiyah dan Hasan)

7. Tamim bin Aus bin Khorijah Ad-Dari & Jarir bin 'Abdulloh bin Jabir

8. Humamah (wafat di peperangan Asbahan pada masa kekhilafahan 'Umar bin Khoththob

9. Hudair

Sahabat yang Berumur Belia Ketika Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam Wafat

1. 'Abdulloh bin Abbas bin 'Abdul Muththolib (lahir 3 tahun sebelum hijriyah dan wafat 68 H di Thoif)

2. Hasan bin Ali bin Abi Tholib (lahir pertengahan Romadhon 3 H dan wafat pada Robi'ul Awwal 50 H)

3. Husain bin Ali bin Abi Tholib (lahir Sya'ban 4 H dan wafat Muharrom 61 H)

4. Abdulloh bin Zubair bin 'Awwam (wafat 17 Jumadil Ula 73 H)

5. Al-Miswar bin Makhromah bin Naufal (lahir 8 tahun sebelum Rosul wafat dan wafat 64 H)

Generasi Tabi'in

Disarikan dari kitab Thobaqotul-Huffazh, karya Syaikh Jalaluddin 'Abdurrohman bin Abi Bakar As-Suyuti, Darul Kutubil 'Ilmiyyah, Beirut, Libanon, Get. I/ 1983 M.

Menurut sebagian ulama, bahwa pengelompokan ini (Kibarut Tabi'in, Al-Wustho minat Tabi'in, dan Shighorut Tabi'in) adalah berdasarkan umurnya yang lebih tua, ilmu (hafalan)nya yang lebih banyak, ketenarannya (karena sering disebut) dan pertemuannya yang lebih banyak dengan generasi sahabat.

Kibaru Tabi'in

1. Al-Qomah bin Qois bin 'Abdulloh bin Malik (wafat 61 H)

2. Masruq bin Ajda' Al-Hamdani (wafat 62 H)

3. 'Ubaidah bin 'Amru (wafat 72 H)

4. Aslam maula 'Umar bin Khoththob (Wafat 80 H)

5. Ummu Darda' (Wafat 80-an H)

6. Sa'id bin Musayyib (wafat 94 H)

7. 'Urwah bin Zubair (wafat 91 H)

8. Abu Salamah bin Abdurrohman bin 'Auf (wafat 94 H)

9. Abu Bakar

10. Muthorrif bin 'Abdilloh (wafat 95 H)

11. Malik bin Aus (wafat 92 H)

12. Al-Aswad bin Yazid bin Qois An-Nakhoi (wafat 74 H)

13. Syuroih bin Hani' bin Yazid (wafat 78 H)

14. Abu Idris Al-Khoulani (wafat 80 H)

15. Abdurrohman bin Abi Laila (wafat 83 H)

16. Abul 'Aliyah Rufa'i bin Mihron (wafat 92 H)

17. 'Amru bin Maimun (wafat 74 H)

18. Abu 'Utsman An-Nahdi (wafat 95 H)

19. Abu Roja' Al-'Uthoridi (wafat 106 H)

20. Zaid bin Wahab Al-Juhani (wafat 96 H)

21. 'Abdulloh bin Muhairiz (wafat 99 H)

22. Al-Mahzumi (wafat 93 H)

Al-Wustho minat Tabi'in (Pertengahan Tabi'in)

1. Ibrohim At-Taimi (wafat 92 H)

2. Ibrohim An-Nakho'i (wafat 96 H)

3. Ali bin Husain bin 'Ali bin Abi Tholib (wafat 42 H)

4. Sa'id bin Jubair (wafat 92 H)

5. Muhammad bin Sirin (wafat 110 H)

6. Asy-Sya'bi 'Amir bin Syurohil (wafat 103 H)

7. Salim bin 'Abdulloh bin 'Umar bin Khoththob (wafat 106 H)

8. Thowus bin Kaisan (wafat 101 H)

9. Atho' bin Yasar Al-Hilali (wafat 103 H)

10. Mujahid bin Jabar (wafat 100 H)

11. 'Ikrimah maula ibnu 'Abbas (wafat 104 H)

12. Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar (wafat 106 H)

13. 'Atho' bin Abi Robah (wafat 114 H)

14. Nafi' maula Ibnu 'Umar (wafat 117 H)

15. Wahab bin Munabbih (wafat 116 H)

16. Zaid bin Aslam (wafat 136 H)

17. Hasan bin Abil Hasan Yasar Al-Bashri (wafat 110 H)

18. Jabir bin Zaid Abu Sya'tsa' Al-'Azdi (wafat 73 H)

19. Abul Khoir Martsad bin Abdulloh (wafat 90 H)

20. 'Ubaidulloh bin Abdulloh bin 'Utbah (wafat 94 H)

21. Maimun bin Mihron (wafat 116 H)

Shighorut Tabi'in

1. Makhul Ad-Dimasyqi (wafat 112 H)

2. Az-Zuhri (wafat 124 H)

3. 'Amru bin Dinar (wafat 125 H)

4. 'Umar bin 'Abdul 'Aziz (wafat 101 H)

5. Qotadah bin Da'amah (wafat 117 H)

6. Hamad bin Abi Sulaiman (wafat 120 H)

7. Yahya bin Sa'id bin Abi Sa'id (wafat 143 H)

8. Hisyam bin 'Urwah bin Zubair bin 'Awwam (wafat 145 H)

9. Sholih bin Kaisan (wafat 140 H)

10. Dhohak bin Muzahir (wafat 105 H)

11. Roja'bin Haiwah (wafat 112 H)

12. Abdulloh bin Dinar (wafat 127 H)

13. Zaid bin Aslam (wafat 136 H)

14. Abu Hazim Salamah bin Dinar (wafat 140-an H)

15. Shofwan bin Sulaim Al-Madani (wafat 124 H)

16. Abdul Karim bin Malik Al-Jazri (wafat 127 H)

17. 'Atho' bin Abi Muslim Al-Khurosani (wafat 135 H)

18. Sulaiman bin Bilal At-Taimi (wafat 172 H)

19. Sulaiman bin Mihron (wafat 148 H)

Generasi Tabi'ut Tabi'i

1. Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit (wafat 150 H)

2. Muqotil bin Hayan

3. 'Abdurrohman Al-Auza'i bin 'Amru (wafat 157 H)

4. Malik bin Anas bin Malik (wafat 179 H)

5. Nafi' bin 'Umar bin 'Abdulloh (wafat 169 H)

6. Fudhoil bin lyadh (wafat 187 H)

7. Sufyan bin 'Uyainah (wafat 148 H)

8. Abu Bakar bin 'Ayyash (wafat 193 H)

9. 'Abdulloh bin Mubarok (wafat 181 H)

10. Abu Yusuf Al-Qodhi (wafat 182 H)

11. Marwan bin Mu'awiyah (wafat 193 H)

12. Syu'bah bin Hajjaj (wafat 160 H)

13. Abdul 'Aziz bin 'Abdulloh bin Abi Salamah Al-Majishun (wafat 164 H)

14. Laits bin Sa'ad bin 'Abdurrohman (wafat 175 H)

15. Abdulloh bin Luhai'ah bin 'Uqbah Al-Mishri (wafat 174 H)

16. 'Ubaidulloh bin 'Amru bin Abil Walid Al-Asadi (wafat 180 H)

17. Hammad bin Salamah bin Dinar Al-Bashri (wafat 167 H)

18. Zaidah bin Qudamah Ats-Tsaqofi (wafat 161 H)

19. Hasan bin Sholih bin Hayyi Al-Hamdani (wafat 169 H)

Pengikut Ulama Salaf

1. Imam Abu Hanifah (lahir 80 H dan wafat 150 H)

2. Imam Malik (lahir 93 H dan wafat 179 H)

3. Imam Syafi'i (lahir 150 H dan wafat 204 H)

4. Imam Ahmad bin Hanbal (lahir 164 H dan wafat 241 H)

5. Imam Bukhori (lahir 194 H dan wafat 256 H)

6. Imam Muslim, (lahir 204 H dan wafat 261 H)

7. Imam Tirmidzi. (lahir 210 H dan wafat 279 H)

8. Imam Ibnu Majah (lahir 209 H dan wafat 273 H)

9. Imam Hakim (lahir 321 H dan wafat 405 H)

10. Ibnul Jauzi (lahir 510 H dan wafat 567 H)

11. Ibnu Qudamah (lahir 541 H dan wafat 620 H)

12. An-Nawawi (lahir 607 H dan wafat 677 H)

13. Ibnu Daqiqil 'Id (lahir 625 H dan wafat 702 H)

14. Ibnu Taimiyyah (lahir 661 H dan wafat 728 H)

15. Ibnul Qoyyim (lahir 691 H dan wafat 751 H)

16. Al-Mizzi (lahir 654 H dan wafat 742 H)

17. Adz-Dzahabi (lahir 673 H dan wafat 748 H)

18. Ibnu Katsir (lahir 700 H dan wafat 774 H)

19. Ibnu Rojab (lahir 736 H dan wafat 775 H)

20. As-Syirozi (lahir 725 H dan wafat 806 H)

21. Al-Haitsami (lahir 735 H dan wafat 807 H)

22. Ibnu Jazri (lahir 775 H dan wafat 832 H)

23. Ibnu Hajar Al-Asqolani (lahir 773 H dan wafat 852 H)

Sumber: buku Potret Salafi Sejati terbitan Al-Qowam yang ditulis oleh Tim Ulin Nuha

Kisah Generasi terbaik Umat Islam

Kisah Generasi terbaik Umat Islam

Tak kenal maka tak sayang. Sebagai orang yang menisbatkan diri kepada manhaj salaf, sudah sepantasnyalah kita mengenal manusia-manusia terbaik (setelah Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam) yang kita menisbatkan diri pada mereka. Merekalah para ulama terbaik umat ini, dimulai dari generasi sahabat rodhiyallahu 'anhum ajma'in, tabi'in, tabiut-tabi'in dan generasi setelahnya dari kalangan ahlus-sunnah waljama'ah rohimahumullahu jami'an.

Generasi Sahabat

(Disarikan dari kitab Shifatu 'sh-Shofwah, karya Abul Faroj ibnul Jauzi, jilid I, Darul Ma'rifah, Beirut Libanon.)

10 Orang Sahabat yang Dijamin Masuk Jannah

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq (wafat 13 H)

2. 'Umar bin Khoththob (wafat 23 H)

3. 'Utsman bin 'Affan (wafat 34 H)

4. 'Ali bin Abi Tholib (wafat 40 H)

5. Tholhah bin 'Ubaidillah (wafat 36 H)

6. Zubair bin 'Awwam (wafat 36 H)

7. 'Abdurrohman bin 'Auf (wafat 36 H)

8. Sa'ad bin Abi Waqqosh (wafat 55 H)

9. Sa'ad bin Zaid (wafat 55/51 H)

10. Abu 'Ubaidah ibnul Jarroh (wafat 18 H)

Di antara Sahabat yang Ikut Perang Badar

1. Hamzah bin 'Abdul Muththolib (wafat 3 H saat perang Uhud)

2. Zaid bin Haritsah (wafat 6 H)

3. Salim Maula Abi Hudzaifah (wafat 106 H)

4. 'Abdulloh bin Jahsy (wafat 3 H saat perang Uhud )

5. Mush'ab bin 'Umair (wafat 3 H saat perang Uhud )

6. 'Uthbah bin Ghozwan (wafat 2 H saat perang Badar )

7. 'Abdulloh bin Mas'ud (wafat 32 H)

8. Miqdad bin 'Amr (wafat 33 H)

9. Khobab bin Arott (wafat 38 H)

10. Shuhaib bin Sinan (wafat 38 H)

11. 'Amir bin Fuhairoh (wafat 4 H saat peristiwa Bi'ru Ma'unah)

12. Bilal bin Robah (wafat 20 H)

13. Abu Salamah (wafat 3 H)

14. Al-Arqom bin Abil Arqom (wafat 13 H)

15. Amar bin Yasir (wafat 37 H saat perang Hunain)

16. Zaid bin Khotob (wafat saat perang Yamamah)

17. Amir bin Robi'ah (wafat 35 H)

18. 'Utsman bin Madh'un (wafat sekitar 3 bulan dari hijroh)

19. 'Abdulloh bin Suhail bin 'Amru (wafat saat perang Yamamah)

20. Sa'ad bin Mu'adz (wafat 5 H)

21. Ubay bin Ka'ab (32 H)

22. Abu Tholhah (wafat 34 H)

23. 'Abdulloh bin Rowahah (wafat 8 H saat peristiwa Bi'ru Ma'unah)

24. Mu'adz bin Jabbal (wafat 18 H)

25. Usaid bin Khudhoir (wafat 20 H)

26. Sa'ad bin 'Ubadah (wafat 15 H)

27. Al-Baro' bin Ma'rur (wafat sebulan sebelum Rosul datang di Madinah)

Di antara Sahabat dari Kaum Muhajirin dan Anshor

1. Al-'Abbas bin 'Abdul Muththolib (lahir 3 tahun sebelum Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam dan wafat: Jumat 14 Rojab 32 H)

2. Ja'far bin Abi Tholib (lahir 10 tahun sebelum 'Ali a& dan wafat 8 H saat perang Mu'tah)

3. Abu Sufyan bin Al-Harits (wafat 20 H)

4. Usamah bin Zaid bin Haritsah (wafatnya akhir Khilafah Mu'awiyah)

5. Salman Al-Farisi (wafat 32 H)

6. Abu Musa Al-Asy'ari (wafat 42 / 44 / 52H)

7. 'Abdulloh bin 'Umar bin Khoththob (lahir 11 tahun sebelum hijrah, wafat 74/ 73 H.)

8. Amru bin Ummi Maktum

9. Abu Dzar Jundab bin Junadah Al-Ghifari (umur 32 tahun)

10. Thufail bin 'Amru bin Thorif bin Ad-Dausi (syahid di perang Yarmuk)

11. Handholah bin Abi Amir (wafat 3 Hsaat perang Uhud)

12. Hudzaifah Ibnul Yaman (meninggal di Madain beberapa bulan setelah wafatnya 'Utsman)

13. Khubaib bin Adi bin Malik

14. Al-Baro' bin Malik (wafat 20 H saat penaklukan Tustar)

15. Tsabit bin Qois (wafat pada perang Yamamah)

16. Abu Darda' (wafat 32 H)

17. Amru bin Jamuh (wafat 3 H saat perang uhud)

18. Abu Qotadah Al-Harits (wafat 54 H)

19. Jabir bin Abdulloh (wafat 78 H)

20. Abu Dahdah Tsabit bin Dahdah (wafat 3 H saat perang uhud)

Di antara Sahabat dari Kaum Muhajirin dan Anshor yang Ikut Perang Khondaq

1. Kholid bin Walid (wafat 21 H di Khimsho)

2. Abdulloh bin Amru bin Ash (wafat 65 H atau saat umur 72 Tahun)

3. Abu Jandal bin Suhail bin Amru (wafat 18 H di Yordania)

4. lyadh bin Ghonam bin Zuhair (wafat 20 H atau saat umur 60 tahun)

5. Safinah maula Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam (wafat 70 )

6. Abdulloh bin Mughoffal (wafat 60 H)

7. 'Imron bin Hushoin bin 'Ubaid (wafat 52 H)

8. Salamah bin Akwa' (wafat 74 H)

9. Robi'ah bin Ka'ab Al-Aslami (wafat 63 H)

10. Abu Huroiroh (wafat 57 H)

11. Zaid bin Tsabit (lahir 11 tahun sebelum hijroh dan wafat 45 H)

12. Anas bin Malik (lahir 9 tahun sebelum hijroh dan wafat 92 H atau saat umur 99 tahun di Bashroh)

13. Abu Sa'id Al-Khudri (wafat 74 H)

14. Qois bin Sa'ad bin 'Ubadah (wafat pada akhir kekhilafahan Mu'awiyah)

15. Abdulloh bin Salam (wafat 43 H)

Di antara Sahabat yang Masuk Islam Ketika Fathu Makkah

1. Hakim bin Hizam bin Khuwailid (lahir di Ka'bah dan wafat 54 H saat umur 120th)

2. Syaibah bin 'Utsman bin Abi Tholhah (wafat pada masa kekhilafahan Yazid bin Mu'awiyah)

3. 'Ikrimah bin Abi Jahl atau Amru bin Hisyam (wafat saat perang Yarmuk)

4. Suhail bin Amru bin Abdusy Syams (wafat 18 H dalam Ribath di Syam)

5. Abu Umamah Al-Bahili

6. Lubaid bin Robi'ah bin Malik Asy-Syair (pada malam perdamaian antara Mu'awiyah dan Hasan)

7. Tamim bin Aus bin Khorijah Ad-Dari & Jarir bin 'Abdulloh bin Jabir

8. Humamah (wafat di peperangan Asbahan pada masa kekhilafahan 'Umar bin Khoththob

9. Hudair

Sahabat yang Berumur Belia Ketika Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam Wafat

1. 'Abdulloh bin Abbas bin 'Abdul Muththolib (lahir 3 tahun sebelum hijriyah dan wafat 68 H di Thoif)

2. Hasan bin Ali bin Abi Tholib (lahir pertengahan Romadhon 3 H dan wafat pada Robi'ul Awwal 50 H)

3. Husain bin Ali bin Abi Tholib (lahir Sya'ban 4 H dan wafat Muharrom 61 H)

4. Abdulloh bin Zubair bin 'Awwam (wafat 17 Jumadil Ula 73 H)

5. Al-Miswar bin Makhromah bin Naufal (lahir 8 tahun sebelum Rosul wafat dan wafat 64 H)

Generasi Tabi'in

Disarikan dari kitab Thobaqotul-Huffazh, karya Syaikh Jalaluddin 'Abdurrohman bin Abi Bakar As-Suyuti, Darul Kutubil 'Ilmiyyah, Beirut, Libanon, Get. I/ 1983 M.

Menurut sebagian ulama, bahwa pengelompokan ini (Kibarut Tabi'in, Al-Wustho minat Tabi'in, dan Shighorut Tabi'in) adalah berdasarkan umurnya yang lebih tua, ilmu (hafalan)nya yang lebih banyak, ketenarannya (karena sering disebut) dan pertemuannya yang lebih banyak dengan generasi sahabat.

Kibaru Tabi'in

1. Al-Qomah bin Qois bin 'Abdulloh bin Malik (wafat 61 H)

2. Masruq bin Ajda' Al-Hamdani (wafat 62 H)

3. 'Ubaidah bin 'Amru (wafat 72 H)

4. Aslam maula 'Umar bin Khoththob (Wafat 80 H)

5. Ummu Darda' (Wafat 80-an H)

6. Sa'id bin Musayyib (wafat 94 H)

7. 'Urwah bin Zubair (wafat 91 H)

8. Abu Salamah bin Abdurrohman bin 'Auf (wafat 94 H)

9. Abu Bakar

10. Muthorrif bin 'Abdilloh (wafat 95 H)

11. Malik bin Aus (wafat 92 H)

12. Al-Aswad bin Yazid bin Qois An-Nakhoi (wafat 74 H)

13. Syuroih bin Hani' bin Yazid (wafat 78 H)

14. Abu Idris Al-Khoulani (wafat 80 H)

15. Abdurrohman bin Abi Laila (wafat 83 H)

16. Abul 'Aliyah Rufa'i bin Mihron (wafat 92 H)

17. 'Amru bin Maimun (wafat 74 H)

18. Abu 'Utsman An-Nahdi (wafat 95 H)

19. Abu Roja' Al-'Uthoridi (wafat 106 H)

20. Zaid bin Wahab Al-Juhani (wafat 96 H)

21. 'Abdulloh bin Muhairiz (wafat 99 H)

22. Al-Mahzumi (wafat 93 H)

Al-Wustho minat Tabi'in (Pertengahan Tabi'in)

1. Ibrohim At-Taimi (wafat 92 H)

2. Ibrohim An-Nakho'i (wafat 96 H)

3. Ali bin Husain bin 'Ali bin Abi Tholib (wafat 42 H)

4. Sa'id bin Jubair (wafat 92 H)

5. Muhammad bin Sirin (wafat 110 H)

6. Asy-Sya'bi 'Amir bin Syurohil (wafat 103 H)

7. Salim bin 'Abdulloh bin 'Umar bin Khoththob (wafat 106 H)

8. Thowus bin Kaisan (wafat 101 H)

9. Atho' bin Yasar Al-Hilali (wafat 103 H)

10. Mujahid bin Jabar (wafat 100 H)

11. 'Ikrimah maula ibnu 'Abbas (wafat 104 H)

12. Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar (wafat 106 H)

13. 'Atho' bin Abi Robah (wafat 114 H)

14. Nafi' maula Ibnu 'Umar (wafat 117 H)

15. Wahab bin Munabbih (wafat 116 H)

16. Zaid bin Aslam (wafat 136 H)

17. Hasan bin Abil Hasan Yasar Al-Bashri (wafat 110 H)

18. Jabir bin Zaid Abu Sya'tsa' Al-'Azdi (wafat 73 H)

19. Abul Khoir Martsad bin Abdulloh (wafat 90 H)

20. 'Ubaidulloh bin Abdulloh bin 'Utbah (wafat 94 H)

21. Maimun bin Mihron (wafat 116 H)

Shighorut Tabi'in

1. Makhul Ad-Dimasyqi (wafat 112 H)

2. Az-Zuhri (wafat 124 H)

3. 'Amru bin Dinar (wafat 125 H)

4. 'Umar bin 'Abdul 'Aziz (wafat 101 H)

5. Qotadah bin Da'amah (wafat 117 H)

6. Hamad bin Abi Sulaiman (wafat 120 H)

7. Yahya bin Sa'id bin Abi Sa'id (wafat 143 H)

8. Hisyam bin 'Urwah bin Zubair bin 'Awwam (wafat 145 H)

9. Sholih bin Kaisan (wafat 140 H)

10. Dhohak bin Muzahir (wafat 105 H)

11. Roja'bin Haiwah (wafat 112 H)

12. Abdulloh bin Dinar (wafat 127 H)

13. Zaid bin Aslam (wafat 136 H)

14. Abu Hazim Salamah bin Dinar (wafat 140-an H)

15. Shofwan bin Sulaim Al-Madani (wafat 124 H)

16. Abdul Karim bin Malik Al-Jazri (wafat 127 H)

17. 'Atho' bin Abi Muslim Al-Khurosani (wafat 135 H)

18. Sulaiman bin Bilal At-Taimi (wafat 172 H)

19. Sulaiman bin Mihron (wafat 148 H)

Generasi Tabi'ut Tabi'i

1. Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit (wafat 150 H)

2. Muqotil bin Hayan

3. 'Abdurrohman Al-Auza'i bin 'Amru (wafat 157 H)

4. Malik bin Anas bin Malik (wafat 179 H)

5. Nafi' bin 'Umar bin 'Abdulloh (wafat 169 H)

6. Fudhoil bin lyadh (wafat 187 H)

7. Sufyan bin 'Uyainah (wafat 148 H)

8. Abu Bakar bin 'Ayyash (wafat 193 H)

9. 'Abdulloh bin Mubarok (wafat 181 H)

10. Abu Yusuf Al-Qodhi (wafat 182 H)

11. Marwan bin Mu'awiyah (wafat 193 H)

12. Syu'bah bin Hajjaj (wafat 160 H)

13. Abdul 'Aziz bin 'Abdulloh bin Abi Salamah Al-Majishun (wafat 164 H)

14. Laits bin Sa'ad bin 'Abdurrohman (wafat 175 H)

15. Abdulloh bin Luhai'ah bin 'Uqbah Al-Mishri (wafat 174 H)

16. 'Ubaidulloh bin 'Amru bin Abil Walid Al-Asadi (wafat 180 H)

17. Hammad bin Salamah bin Dinar Al-Bashri (wafat 167 H)

18. Zaidah bin Qudamah Ats-Tsaqofi (wafat 161 H)

19. Hasan bin Sholih bin Hayyi Al-Hamdani (wafat 169 H)

Pengikut Ulama Salaf

1. Imam Abu Hanifah (lahir 80 H dan wafat 150 H)

2. Imam Malik (lahir 93 H dan wafat 179 H)

3. Imam Syafi'i (lahir 150 H dan wafat 204 H)

4. Imam Ahmad bin Hanbal (lahir 164 H dan wafat 241 H)

5. Imam Bukhori (lahir 194 H dan wafat 256 H)

6. Imam Muslim, (lahir 204 H dan wafat 261 H)

7. Imam Tirmidzi. (lahir 210 H dan wafat 279 H)

8. Imam Ibnu Majah (lahir 209 H dan wafat 273 H)

9. Imam Hakim (lahir 321 H dan wafat 405 H)

10. Ibnul Jauzi (lahir 510 H dan wafat 567 H)

11. Ibnu Qudamah (lahir 541 H dan wafat 620 H)

12. An-Nawawi (lahir 607 H dan wafat 677 H)

13. Ibnu Daqiqil 'Id (lahir 625 H dan wafat 702 H)

14. Ibnu Taimiyyah (lahir 661 H dan wafat 728 H)

15. Ibnul Qoyyim (lahir 691 H dan wafat 751 H)

16. Al-Mizzi (lahir 654 H dan wafat 742 H)

17. Adz-Dzahabi (lahir 673 H dan wafat 748 H)

18. Ibnu Katsir (lahir 700 H dan wafat 774 H)

19. Ibnu Rojab (lahir 736 H dan wafat 775 H)

20. As-Syirozi (lahir 725 H dan wafat 806 H)

21. Al-Haitsami (lahir 735 H dan wafat 807 H)

22. Ibnu Jazri (lahir 775 H dan wafat 832 H)

23. Ibnu Hajar Al-Asqolani (lahir 773 H dan wafat 852 H)

Sumber: buku Potret Salafi Sejati terbitan Al-Qowam yang ditulis oleh Tim Ulin Nuha

Kisah Pendiri madzab maliki = Malik bin anas

Kisah Pendiri madzhab maliki = Malik bin anas

Nama dan Nasab Beliau

Beliau adalah al-Imam Abu Abdillah, Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amr bin Harits bin Ghaiman bin Khutsail bin Amr bin Harits Dzu Ashbah bin Auf bin Malik bin Zaid bin Syaddad bin Zur`ah Himyar al-Ashghar al-Himyari kemudian al-Ashbahi al-Madani. Ibu beliau bernama Aliyah bintu Syarik al-Azdiyyah.

Kelahiran Beliau

Beliau dilahirkan pada tahun 93 H di Madinah

Sifat-Sifat Beliau

Beliau RAH berwajah tampan, berkulit putih kemerah-merahan, berperawakan tinggi besar, berjenggot lebat, pakaiannya selalu bersih, suka berpakaian warna putih, jika memakai ‘imamah (syal) sebagian diletakkan di bawah dagunya dan ujungnya diuraikan di antara kedua pundaknya. Beliau selalu memakai wangi-wangian dari misk (kasturi) dan yang lainnya.

Beliau tersohor dengan kecerdasan, keshalihan, keluhuran jiwa dan kemuliaan akhlaqnya.

Pertumbuhan Dan Guru-Guru Beliau

Beliau RAH menuntut ilmu ketika masih berusia belasan tahun. Ketika berusia 21 tahun beliau sudah mencapai tingkatan mufti yang boleh berfatwa dan memiliki majelis pengajian tersendiri. Banyak ulama yang mengambil ilmu riyawat dari beliau saat beliau masih begitu muda.

Banyak para penuntut ilmu dari berbagai penjuru datang kepada beliau pada akhir kekhalifahan Abu Ja`far al-Manshur dan bertambah banyak pada kekhalifahan Harun al-Rasyid hingga beliau wafat.

Beliau mengambil ilmu dari Nafi`, Maula Ibnu Umar, Sa`id al-Maqburi, Amir bin Abdullah bin Dinar dan banyak lagi selain mereka yang jumlahnya melebihi 1400 orang.

Murid-Murid Beliau

Di antara guru-guru beliau yang mengambil riwayat dari beliau adalah paman beliau Abu Suhail bin Abu Amir, Yahya bin Abu Katsir, az-Zuhri, Yahya bin Sa`id, Yazid bin Hadzai bin Abu Usainah, Umar bin Muhammad bin Zaid dan selain mereka.

Di antara murid-murid beliau adalah Ma`mar bin Rasyid, Ibnu Juraij, Abu Hanifah, asy-Syafi`i, Amr bin Harits, al-Auza`i, Syu`bah, Sufyan ats-Tsauri, Abdullah bin Mubarak, Abdul Aziz ad-Darawardi, Ibnu Abi Zinad, Ibnu Ulayyah, Yahya bin Abu Zaidah, Abu Ishaq al-Fazari, Muhammad bin Hasan asy-Syaibani, Abdurrahman bin Qasim, Abdurrahman bin Mahdi, Ma`n bin Isa, Abdullah bin wahb, Musa bin Thariq, Nu`man bin Abdussalam, Waki` bin Jarrah, Walid bin Muslim, Yahya al-Qaththan dan selain mereka.

Murid beliau yang terakhir meninggal adalah perawi kitab al-Muwaththa`, Abu Hudzafah Ahmad bin Isma`il as-Sahmi, dia hidup selama 80 tahun sepeninggal al-Imam Malik.

Hadist Yang Mengisyaratkan Tentang Keutamaan Beliau

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh manusia akan menempuh perjalanan jauh untuk menuntut ilmu, maka mereka tidak mendapati seorang alim pun yang lebih berilmu dibandingkan dengan ulama Madinah.” (Diriyawatkan oleh Nasa`i dalam sunan kubra 2/489 dan Ibnu Abi Hatim dalam Taqdimatul Jarhwat Ta`dil hal.11-12 dan berkata adz-Dzahabi dalam siyar 8/56: hadist ini sanadnya bersih dan matannya gharib.

Abdurrazaq bin Hamman berkata, ”kami memandang bahwa dia adalah Malik bin Anas (yaitu dalam Sabda Rasulullah saw…. Mereka tidak mendapati seorang alim yang lebih berilmu dibandingkan dengan ulama di madinah.)”

Abdul Mughirah al-Makhzumi menyebutkan bahwa makna hadist di atas adalah selama kaum muslimin menuntut ilmu mereka tidak mendapati orang yang lebih berilmu dari pada ulama di Madinah.

Adz-Dzahabi berkata;”Tidak ada seorang ulama pun di Madinah setelah tabi`in yang menyerupai Malik dalam keilmuan, fiqh, keagungan dan hapalan.”

Fiqh dan Kelimuan Beliau

Al-Imam asy-Syafi`i berkata, “Seandainya tidak ada Malik dan Sufyan maka sungguh akan hilanglah ilmu Hijaz.”

Al-Imam asy-Syafi`i juga berkata, ”Muhammad bin Hasan sahabat Abu Hanifah berkata kepadaku, ’siapakah yang lebih mengetahui tentang al-Qur`an, sahabat kami (yaitu Abu Hanifah) atau sahabat kalian (yaitu Malik)? ’Aku berkata, ’secara adil?’ dia berkata, ’Ya.’ Aku berkata, ’Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, siapakah yang lebih mengetahui tentang al-Qur`an, sahabat kami atau sahabat kalian?’ Dia berkata, ’Sahabat kalian (yaitu Malik). ’Aku berkata, ’Siapakah yang yang lebih mengetahui tentang Sunnah, sahabat kami atau sahabat kalian?’ Dia berkata, ’Sahabat kalian (yaitu Malik). ’Aku berkata, ’Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, siapakah yang lebih mengetahui tentang perkatan para sahabat Rasulullah SAW dan perkataan para ulama terdahulu; sahabat kami atau sahabat kalian? ’Dia berkata, ’Sahabat kalian (yaitu Malik).” asy-Syafi`i berkata, ”Maka aku berkata, ’Tidak tersisa sekarang kecuali qiyas, sedangkan qiyas adalah analogi pada pokok-pokok ini, orang yang tidak tahu pokok-pokok ini, pada apa dia mengqiyaskan sesuatu?”

Abu Hatim ar-Razi berkata, ’Malik bin Anas adalah seorang yang tsiqah, Imam penduduk Hijaz, dia adalah murid Zuhri yang terdepan. Jika penduduk Hijaz menyelisihi Malik, maka yang benar adalah Malik.”

Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata, ”Malik bin Anas adalah manusia yang paling mantap dalam hadits.”

Kehati-hatian Beliau Dalam Berfatwa

Abu Mush`ab berkata, ”Aku mendengar Malik berkata, ”Aku berfatwa hingga 70 orang bersaksi bahwa aku layak berfatwa.”

Abdurrahman bin Mahdi berkata, ”Kami berada di sisi al-Imam Malik bin Anas, tiba-tiba datang seorang kepadanya seraya berkata, ’Aku datang kepadamu dari jarak 6 bulan perjalanan, penduduk negeriku menugaskan kepadaku agar aku menanyakan kepadamu suatu permasalahan.’ Al-Imam Malik berkata, ’Tanyakanlah!’ Maka orang tersebut bertanya kepadanya suatu permasalahan.

Al-Imam Malik menjawab, ’Aku tidak bisa menjawabnya.’ Orang tersebut terhenyak, sepertinya dia membayangkan bahwa dia telah datang kepada seseorang yang tahu segala sesuatu, orang tersebut berkata, ’Lalu apa yang akan aku katakan kepada penduduk negeriku jika aku pulang pada mereka?’ Al-Imam Malik berkata, ’Katakan kepada mereka, Malik tidak bisa menjawab.”

Khalid bin Khidasy berkata, ”Aku datang kepada Malik dengan membawa 40 masalah, tidaklah ia menjawabnya kecuali 5 masalah saja.”

Perhatian Beliau kepada Kitabullah

Khalid al-Aili berkata, ”Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih memiliki perhatian kepada kitabullah dibandingkan Malik bin Anas.”

Abdullah bin Wahb berkata, ”Aku bertanya kepada saudara perempuan Malik bin Anas, ’Apakah kesibukan Malik di rumahnya.?” Dia menjawab, ’Mushaf dan tilawah.”

Tentang Akal dan Adab Beliau

Abdurrahman bin Mahdi berkata, ”Aku tidak pernah melihat ahli hadits yang lebih bagus akalnya dibandingkan Malik bin Anas.”

Abu Mush`ab berkata, ”Aku tidak pernah sekalipun mendengar Malik menyuruh orang berdiri, dia hanya berkata, ’kalau kalian menghendaki, kembalilah.”

Abdullah bin wahb berkata, ”Yang kami nukil dari adab Malik lebih banyak daripada yang kami pelajari dari ilmunya.”

Ittiba` Beliau kepada Sunnah

Abdullah bin Wahb, ”Aku mendengar Malik ditanya oleh seseorang tentang masalah menyela-nyela jari-jari kedua kaki ketika berwudhu, maka dia berkata, ”Hal-hal itu tidak disyari`atkan atas manusia.” Abdullah bin Wahb berkata, ”Aku biarkan dia sampai ketika sudah sepi dari manusia, aku katakan kepadanya, ’kami memiliki hadits tentang itu.’ Maka ia berkata, ’Apa itu?’ Aku berkata, ’Telah mengkabarkan kepada kami Laits bin Sa`ad, Ibnu Lahi`ah dan Amr bin Harits dari Yazid bin Amr Al-Ma`afiri dari Abu Abdirrahman a-Hubulli dari Mustaurid bin Syaddad al-Qurasyi, dia berkata, aku melihat Rasulullah SAW menggosok sela-sela jari-jari kakinya dengan kelingkingnya.’ Malik berkata, ’Hadits ini Hasan, aku belum pernah mendengarnya kecuali saat ini. ”Abdullah bin Wahb berkata, ”Kemudian sesudah itu aku mendengar Malik ditanya tentang hal tersebut dan dia memerintahkan agar menyela-nyela jari-jari kaki ketika berwudhu.”

Diantara Perkataan-perkataan Beliau

Al-Imam Malik berkata, ”Ilmu tidak boleh diambil dari 4 orang: orang dungu yang menampakkan kedunguannya meskipun dia paling banyak riwayatnya, Ahli bid`ah yang mengajak kepada hawa nafsunya, orang yang biasa berdusta ketika bicara dengan manusia meskipun aku tidak menuduh dia berdusta dalam hadits dan orang shalih yang banyak beribadah jika dia tidak hafal hadits yang dia riwayatkan.”

Beliau berkata, ”Rasulullah SAW dan para khalifah sesudah beliau telah membuat sunnah-sunnah, mengambil sunnah-sunnah tersebut adalah ittiiba` kepada kitabullah, penyempurna ketaatan kepada Allah dan kekuatan di atas agama Allah. Tidak boleh bagi seorang pun mengubah dan mengganti sunnah-sunnah tersebut dan melihat kepada sesuatu yang menyelisihinya. Orang yang mengambil sunnah-sunnah tersebut maka dialah orang yang mendapatkan petenjuk. Orang yang meminta pertolongan dengannya maka dia akan tertolong. Dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia telah mengikuti selain jalan orang-orang mu`min, Allah memalingkannya sebagaimana dia berpaling dan memasukkannya ke dalam jahanam yang merupakan sejelek-jelek tempat kembali.”

Al-Imam asy-Syafi`i berkata, ”Adalah al-Imam Malik jika didatangi oleh sebagian ahli bid`ah, dia mengatakan, ’Adapun aku maka berada di atas kejelasan agamaku. Adapun kamu maka seorang yang masih ragu, pergilah kepada orang yang ragu sepertimu dan debatlah dia.”

Ja`far bin Abdullah berkata, ”Kami berada di sisi Malik, lalu tiba-tiba datang seseorang yang berkata, ’wahai Abu Abdillah, Allah bersemayam di atas `Arsy, bagaimana istiwa` itu?’ tidaklah Malik marah dari sesuatu melebihi marahnya pada pertanyaan orang tersebut, dia melihat ke tanah dan menohoknya dengan batang kayu yang ada di tangannya hingga bercucuran keringatnya, kemudian dia mengangkat kepalanya dan membuang batang kayu tersebut seraya mengatakan, ’Kaifiyyat (cara) dari istiwa` tidak diketahui, istiwa` bukanlah perkara yang majhul, iman kepada istiwa` adalah wajib dan bertanya tentang kaifiyyatnya adalah bid`ah dan aku menduga kamu adalah seorang ahli bid`ah.” Maka kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis.

Cobaan Beliau

Ibnu Jarir berkata, ”Malik pernah dipukul dengan cambuk.” Kemudian Ibnu Jarir membawakan sanadnya sampai Marwan ath-Thathari bahwasanya Abu Ja`far al-Manshur melarang Malik menyampaikan haditst, ’Tidak ada thalaq bagi orang yang dipaksa.‘ Kemudian ada orang yang menyelundup di majelisnya menanyakan hadits tersebut hingga Malik menyampaikannya di depan manusia, maka Abu Ja`far kemudian mencambuk Malik.”

Muhammad bin Umar berkata, ”Sesudah kejadian tersebut Malik semakin naik derajatnya di mata manusia.”

Azd-Dzahabi berkata, ”Inilah buah dari pujian yang terpuji, akan mengangkat kedudukan hamba di sisi orang-orang yang beriman.”

Tulisan-Tulisan Beliau

Di antara tulisan-tulisan beliau adalah al-Muwaththa’ yang dikatakan oleh al-Imam asy-Syafi`i, “Tidak ada kitab dalam masalah ilmu yanng lebih banyak benarnya dibandingkan dengan Muwaththa’ karya Malik.” Tulisan lainnya, sebuah Risalah mengenai Qadar yang dikirimkan kepada Abdullah bin Wahb, an-Nujum wa Manazilul Qamar yang diriyawatkan oleh Sahnun dari Nafi` dari beliau, sebuah Risalah mengenai Aqdhiyah (Hukum Peradilan), Juz dalam Tafsir, Kitabus Sirr, Risalah ila Laits fi Ijma` Ahlil Madinah dan yang lainnya.

Wafat Beliau

Al-Imam Malik wafat di pagi hari 14 Rabi`ul Awwal tahun 179 H di Madinah dalam usia 89 tahun. Semoga Allah meridhainya dan menempatkannya dalam keluasan jannah-Nya.

(Sumber:Majalah Al-Furqan edisi 9, tahun V, Rabi`uts Tsani 1427/Mei 2006)